Lama sekali saya tak menulis di blog ini. Alhamdulillah, setelah beberapa kali perenungan (tsah), saya mengisinya kembali dengan beberapa ...

Lama sekali saya tak menulis di blog ini. Alhamdulillah, setelah beberapa kali perenungan (tsah), saya mengisinya kembali dengan beberapa temuan sejarah yang menarik minat saya. Setidaknya, catatan-catatan tersebut tidak sedemikian tercecer ke mana-mana. Keuntungannya adalah, blog ini terisi kembali. Dan somehow, saya tergelitik menulis di sini setelah merangkum beberapa fakta sejarah ekonomi Indonesia, terkhusus tentang potret kriminalitas warga, yang disebut kecu dan koyok. 2 sebutan bagi perampok rumah pada malam hari, yang biasanya disertai penyiksaan korban.

Foto pinjam dari Pixabay.com

Pada tahun 1870-an, politik ekonomi liberal telah diberlakukan oleh pemerintah Belanda. Semua investor (asing maupun pribumi) yang memiliki dana, boleh membuat usaha. Pabrik dan perkebunan baru banyak dibuka. Dengan bantuan aparat dan pemerintah, investor bisa menyewa tanah secara paksa (bisa sampai 75 tahun) dengan harga murah. Pada masa ini, mereka yang kaya semakin kaya, selain golongan ini, bekerja pada mereka. Kondisi ekonomi yang seperti ini memicu banyak kelaparan dan paceklik (kekurangan bahan pangan). Kesimpulan ini diambil dari pengamatan bulan yang paling sering terjadi kasus pencurian dan perampokan, yaitu pada bulan September. Beberapa perampokan terjadi pada bulan April. Ketika musim panen (tebu), tak ada kasus pencurian dan perampokan.

Dalam kondisi seperti ini, kecu dan koyok merajalela. Mereka adalah sekelompok orang perampok yang mencuri pada malam hari, dan tak jarang disertai kekerasan dan penyiksaan korban perampokan. Perbedaan kecu dan koyok ada pada jumlah perampok. Kecu biasanya beranggotakan banyak orang, sedangkan koyok hanya terdiri dari 1 atau 2 perampok dalam satu kali aksi Selain kecu dan koyok, adalagi perampok lain yang mengancam warga, yaitu begal, pencuri dan rajakaya. Begal menyerang korbannya di persimpangan jalan, dan tidak harus dilakukan pada malam hari. Pencuri bisa beraksi kapan saja, ketika korban lengah, sedangkan rajakaya adalah sebutan bagi para pencuri ternak.

Foto pinjam dari Pixabay.com

Jumlah kasus kecu dan koyok cukup banyak pada masa itu. Korbannya pun tidak hanya orang Eropa dan Cina, namun juga orang-orang Jawa yang kaya. Orang Jawa yang menjadi korban dan tercatat adalah Kartawijaya dari desa Turisari, Kecamatan Kampung Kidul. Juga Kartaboga, seorang bekel dari Serengan Kecamatan Colo Madu. Menurut data yang dihimpun di Surakarta, kecu dan koyok menyerang 3 afdelling, yakni Klaten, Bayalali, dan Wanagiri, berikut jumlah kasus pada tahun 1872 - 1879:
  1. Pada tahun 1872, terdapat 24 kasus.
  2. Pada tahun 1873, terdapat 21 kasus
  3. Pada tahun 1877, terdapat 17 kasus
  4. Pada tahun 1879, terdapat 8 kasus


Menurunnya jumlah kasus perampokan disertai kekerasan pada abad XIX ini karena pemerintah daerah meningkatkan kegiatan ronda desa (patrolan dusun) dan menambah jumlahnya pada desa-desa yang rawan. Jadwal ronda diatur ketat dan para mantri gunung serta aparat sering melakukan inspeksi. Rumah orang kaya juga dijaga para bekel. Bunyi tertentu disepakati sebagai isyarat, sehingga penyergapan kecu dan koyok cepat terjadi.

Foto pinjam dari www.acehtrend.com

Upaya pencegahan yang lainnya adalah dibuatnya beberapa kebijakan yang dibuat para gunung dan wedana gunung, yaitu:
  1. Penduduk wajib menanam bambu ori di sekitar wilayah desa.
  2. Jalan di desa harus berpagar tanaman hidup.
  3. Semua rumah punya pintu berkunci
  4. Jalan bagi manusia tidak dicampur dengan jalan bagi hewan
  5. Setiap pintu masuk desa harus diberi gerbang dan gardu jaga yang dijaga minimal 3 orang sejak pukul 18.00 - 06.00 pagi.
  6. Tiap penjaga dibekali minimal sepadan dengan senjata yang dibawa perampok, yaitu canggah tombak. pedang dan tampar.
  7. Pada jam tertentu harus membunyikan kentongan. Beberapa nada disepakati, sehingga ketika terjadi sesuatu, penduduk akan langsung tahu. Sebagian membantu ke lokasi, sebagian lagi ikut membunyikan kentongan untuk memanggil lebih banyak bala bantuan.
Semua warga wajib mengikuti aturan ini dengan ancaman pidana. Pemerintah daerah bertugas mengawasi kegiatan keamanan ini. Sekadar tahu, tata pemerintahan pada masa itu ditentukan oleh Bupati dan harus atas persetujuan Residen. Para kepala disktrik (afdelling) pada masa itu disebut wedana gunung. Tugasnya sebagai pejabat birokrasi merangkap pejabat keamanan. Wedana gunung dibantu oleh para gunung atau pejabat setingkat kecamatan (onderdistrict).

Pengaturan kebijakan keamanan yang cukup canggih dan terstruktur, ya. Rasanya sulit dipercaya, dan saya senang sekali saat membacanya, sehingga memutuskan merangkum dan menyarikan buku yang sedang saya baca di blog ini. Ah, ya, kamu bisa membacanya di buku "Kapitalisme Bumi Putra: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran", karya Wasino yang terbit pada tahun 2008 melalui penerbit LKiS Yogyakarta. Halaman 323 - 332, ya.

Ok, sekian dulu tulisan saya kali ini. Semoga ada manfaatnya untukmu. Bagi saya sih.... bermanfaat bangeeet... karena saya sedang senang menulis sejarah.

Sudah sejak lama sekali, Jepara dikenal sebagai pusat kerajinan ukir. Tak hanya pusat, akan tetapi sebagian orang Jepara meyakini bahwa se...

Sudah sejak lama sekali, Jepara dikenal sebagai pusat kerajinan ukir. Tak hanya pusat, akan tetapi sebagian orang Jepara meyakini bahwa seni ukir lahir di kota di pesisir utara pulau Jawa ini. Legenda tentang Sungging Prabangkara sangat identik dengan masyarakat Jepara. Benarkah Jepara menjadi asal muasal seni ukir Jepara? 


Saya tak berani menjawab karena di nusantara ini, ada beragam bentuk seni ukir kuno yang sulit diketahui mana yang pertama. Setidaknya ada beberapa motif seni hias (ukir) di nusantara yang dikenal dalam sejarah seni ukir, yaitu; 
1. motif seni hias (ukir) Jepara
2. motif seni hias (ukir) Majapahit, 
3. motif seni hias (ukir) Pajajaran, 
4. motif seni hias (ukir) Bali, 
5. motif seni hias (ukir) Mataram, 
6. motif seni hias (ukir) Madura
7. motif seni hias (ukir) Cirebon
8. motif seni hias (ukir) Pekalongan
9. motif seni hias (ukir) Surakarta
10. motif seni hias (ukir) Yogyakarta

Banyak, ya. Mana yang menjadi pelopornya? Wallahu alam. Akan jadi diskusi yang tak habis-habis kecuali ada sebuah proyek penelitian sejarah berskala raksasa, berupa kerjasama arkeolog dan sejumlah bidang ilmu yang berhubungan untuk mencari sejarahnya, minimal di 10 kota di atas. Kendala utamanya adalah, ukiran tersebut dibuat di kayu yang bisa lapuk dan sejarahnya hilang tanpa bekas. Hmm... memang patut disayangkan. Saya pun masih kesulitan mencari jejak seni ukir kayu tertua di Jepara karena minim data dan koneksi yang dapat membantu. Jika Sahabat Saujana Japara memiliki informasi, bisa menghubungi saya di surel susierna.saja@gmail.com.



Saya akan kembali ke judulnya saja agar lebih fokus. Siapa sih Sungging Prabangkara dan apa kaitannya dengan sejarah seni ukir Jepara? Kisah tentang tokoh seniman ini selalu dimulai dari sebuah kisah sanepo yang indah:

*_*
"Alkisah, ada seorang ahli seni di Kerajaan Majapahit pada masa Raja Brawijaya V. Nama aslinya tidak diketahui. Ia dikenal dengan nama pena Sungging Prabangkara. Nama ini adalah nama julukan yang memiliki 2 asal kata yaitu sungging yang berarti ahli dan prabangkara yang berarti matahari atau pelukis. Tak heran jika nama ini disematkan padanya, karena ia adalah pelukis terbaik kerajaan Majapahit. Prabangkara juga seniman serba bisa sehingga tak hanya melukis, ia juga bisa memahat dan mengukir. Ia dikenal dengan nama lain yang tak kalah cetar yaitu Sungging Adi Linuwih.
Raja Brawijaya V sedang sangat bahagia karena mempersunting seorang putri dari negeri Campa yang cantik jelita. Raja ingin istrinya tersebut dilukis. Prabangkara berhasil membuat sebuah lukisan yang sangat mirip. Di lukisan tersebut, sang putri Campa menggunakan baju yang tipis sehingga tahi lalat di daerah pribadinya terlihat.  
Sang raja murka tiada tara melihat hasil lukisan Prabangkara. Ia menuduh pelukisnya tersebut melihat tubuh telanjang istrinya. Prabangkara bersumpah bahwa tanda tahi lalat tersebut tak sengaja, dan terjadi karena kecerobohannya sehingga tak dinyana, kuasnya membuat titik hitam di sana.

Raja tidak percaya dengan penjelasan Prabangkara. Ia menghukumnya sebagai peringatan keras. Tubuh Prabangkara dan semua alat seninya diikat di tali dan diterbangkan dengan layang-layang raksasa. Layang-layang tersebut berputar-putar di udara cukup lama. Satu per satu alat seni Prabangkara jatuh ke bumi. Alat membuat patung jatuh di Bali, sedangkan alat membuat ukir jatuh di Jepara. Tak diceritakan di mana tubuh Prabangkara jatuh."
Ah ya, ada satu tambahan yang tak kalah romantis membingungkan, yaitu ganden Prabangkara jatuh di Cina. Astaga!
*_*
Maem Kerang dulu agar mudah mengeksekusi kisah romantis di atas

Sebagaimana kisah-kisah sejarah jenis babad, kisah di atas sungguh sulit dinalar. Bukan tentang layangan, karena sejatinya layangan telah dikenal sejak 2500 SM dan sejak dahulu kala digunakan sebagai salah satu properti bertani.

Bagaimana alat-alat Prabangkara bisa jatuh di Bali, Jepara dan Cina? Heu... heu... berapa panjang tali layangan tersebut? Dari Kediri ke Bali, Jepara lalu Cina? Jauhnya...

Sastra Jawa lama memang penuh dengan sanepo atau perumpamaan yang harus dilogika dengan sedikit liar (versi saya). Prabangkara ini rasanya seperti tokoh maya yang tak pernah ada. Ia adalah personifikasi sebuah keahlian paripurna yang dimiliki secara kolektif oleh sekelompok seniman dari masa Majapahit. Munculnya Raja Brawijaya V membuat analisa semi liar saya menyatakan demikian. Brawijaya V adalah tokoh legendaris Kerajaan Majapahit yang sangat sering disebut, karena menjadi raja terakhir kerajaan besar di Jawa Timur tersebut. Kekuasaannya berakhir pada tahun 1478. Bisa jadi, itu juga sebuah penanda kala atau waktu, yang dapat diartikan bahwa pada akhir masa kerajaan Majapahit, banyak seniman yang ditawan dan dibawa oleh pasukan Kerajaan Demak ke Jepara yang saat itu menjadi vassal utamanya. Di Demak dan sekitarnya juga ada beberapa motif ukir yang mirip dengan yang ada di Trowulan.

Bagaimana dengan Bali dan Cina? Bali letaknya cukup dekat dengan kerajaan ini, sehingga wajar jika penduduknya bermigrasi ke sana. Pastilah ada sebagian seniman yang juga ke sana. Cina disebut juga karena banyak seni ukir dan pahat di nusantara yang memiliki kesamaan motif dengan motif dari Cina. Tentu saja, pedagang Cina sudah sampai ke nusantara sejak abad VII (ada buku dari penulis Inggris yang menyebut sejak abad III). 

Itu versi ngawur saya. Kalau versi Pak Kus Haryadi yang menulis buku Macan Kurung Belakanggunung, sosok Prabangkara benar-benar nyata dan beliau singgah di Cina untuk belajar mengukir, sebelum singgah di Bali dan Jepara untuk mengajari penduduk setempat mengukir. Yang mana versi benar menurut Sahabat Saujana Japara, saya persilakan pilih secara mandiri. Boleh juga beropini di kolom komentar, karena saya sangat menantikan diskusi seru tentang Sejarah Seni Ukir Jepara, terkhusus sosok misterius Sungging Prabangkara.

Pernah mengalami drama saat melakukan packing sebelum bepergian ke suatu tempat? Saatnya untuk mencari tahu 15 tips packing yang perlu dik...

Pernah mengalami drama saat melakukan packing sebelum bepergian ke suatu tempat? Saatnya untuk mencari tahu 15 tips packing yang perlu diketahui Semua traveller. Dengan mengetahui tips packing paling inti, diharapkan traveler akan terhindar dari drama saat berkemas, mulai dari kesulitan menyeleksi barang bawaan hingga menghindari risiko overload bagasi.


Tips packing umum:


1. Sebisa mungkin, gunakan tas ukuran kabin. Lebih baik jika bisa membawa backpack saja. Semakin kecil tas yang kamu gunakan, semakin kecil risikomu mengalami overload bagasi. Kamu juga akan dipaksa untuk menyeleksi barang bawaan supaya bisa muat dalam tas tersebut, dan akhirnya terbiasa membawa barang-barang penting saja.

2. Buat daftar barang apa saja yang akan dibawa. Fokuslah untuk membawa barang yang penting-penting saja, kecuali jika kamu akan pergi ke daerah pedalaman yang jauh dari mana-mana.

3. Jejerkan seluruh barang yang akan dibawa, dan singkirkan separuhnya.

4. Manfaatkan ziplock, compression bag, maupun travel bag organizer untuk mengemas barang bawaan dengan lebih praktis. Benda-benda tersebut juga membantu memaksimalkan penggunaan ruang dalam tas, serta menjadi wadah kedap air bagi barang bawaan.

5. Bawa toiletries dalam kemasan travel.

6. Hindari membawa banyak barang dengan membeli apa yang bisa dibeli di lokasi traveling.

7. Saat menyiapkan alas kaki yang akan dibawa, cukup membawa dua macam alas kaki: sepatu untuk jalan-jalan dan sandal jepit; kecuali jika Anda akan melakukan kegiatan yang membutuhkan alas kaki khusus, seperti hiking atau menghadiri acara formal.

 

Tips packing pakaian:


1. Jelilah dalam memilih pakaian yang akan dibawa. Utamakan membawa pakaian dengan warna-warna netral yang mudah dipadupadankan sehingga tidak membosankan.

2. Masih bingung memilih baju favorit yang akan dibawa? Utamakan memilih baju yang bahannya ringan, mudah dicuci, tidak mudah kusut, dan cepat kering. Jangan lupa tanyakan lagi apakah Anda betul-betul membutuhkan pakaian itu atau tidak?

3. Tips lainnya untuk menyeleksi pakaian yang akan dibawa: selama apapun Anda bepergian, bawalah pakaian maksimal untuk 7 hari saja. Jangan malas untuk mencuci baju selama traveling.

4. Tetap ingin tampil gaya saat liburan tanpa harus membawa banyak baju? Bawalah beberapa aksesoris seperti kalung dan gelang.

5. Bawa bermacam-macam syal, scarf atau topi untuk mengubah penampilan. Syal dan scarf juga bisa membantu menghangatkan badan, terutama jika kamu mengenakan pakaian tipis dan tidak membawa jaket.

6. Pertimbangkan juga untuk membawa kain pantai atau sarung minimal satu buah. Kain pantai atau sarung bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, mulai dari menutupi pakaian yang terlalu terbuka, hingga menjadi selimut darurat.

7. Jika cuaca tidak terlalu dingin, hindari membawa jaket atau mantel tebal. Lebih baik mengenakan beberapa lapis pakaian dibanding membawa satu jaket tebal.

8. Kemas pakaian dengan cara digulung untuk menghemat tempat.

Selain 15 tips packing yang perlu diketahui semua traveler yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa barang lain yang bisa kamu bawa. Misalnya saja:

1. Jangan lupa juga membawa karet gelang secukupnya. Walau kecil dan terlihat remeh, karet gelang bisa digunakan untuk berbagai hal, mulai dari mengikat beberapa baju menjadi satu sehingga lebih hemat, menjadi karet cadangan untuk mengikat rambut, hingga bermanfaat sebagai alat bantu dalam keadaan darurat.

2. Jangan lupa juga membawa colokan listrik multi tipe, terutama jika kamu bepergian ke negara lain yang menggunakan model colokan berbeda dengan yang biasa ditemukan di Indonesia.

Nah... semudah itu lho kalau mau packing. Sekarang kita di mana mau ke mana? Yuk Gaaas....

H-8 lebaran. Bagi yang punya tradisi mudik, pasti sudah mulai berkemas. Sepakat atau tidak, lebaran memang yang paling ditunggu untuk melep...

H-8 lebaran. Bagi yang punya tradisi mudik, pasti sudah mulai berkemas. Sepakat atau tidak, lebaran memang yang paling ditunggu untuk melepas rindu. Waktu cuti yang panjang,THR, dan kesempatan bertemu hampir seluruh anggota keluarga besar menjadi alasan tradisi ini tetap lestari. Kapan lagi mendapat paket komplit di kampong halaman? Rasa-rasanya, mudik lebaran memang satu-satunya kesempatan yang bisa diambil bagi yang ingin bersilaturahmi secara komolit dalam satu perjalanan. Dan di atas semua itu, kebahagiaan dan ridho bapak ibu membuat saya, kamu dan kita kembali bekerja dengan lebih ringan. Alhamdulillah tahun ini kami sekeluraga akan mudik juga. Perjalanan lebih dari 1000 km tak menyurutkan rencana.


Mudik melalui jalur udara menjadi salah satu alternative yang disukai di Indonesia. Beberapa tahun belakangan ini menjadi pilihan yang lebih digemari. Transportasi darat sedemikan ruwet dan rawan macet. Apalagi jika bepergian ke lain pulau. Meski ada transportasi laut, khusus bagi saya, lebih nyaman via udara. Anggapan ini diamini banyak calon penumpang dan calon pemudik. Makanya tak heran jika H-5 bandara tujuan domestik sudah padat pengunjung. Tahun ini, diperkirakan ada 5,5 juta pemudik yang menggunakan jalur udara melalui 35 bandar udara yang ada di Indonesia. Jumlah itu berdasarkan perkiraan kenaikan jumlah penumpang sebesar 10% dari jumlah pemudik tahun 2016. Makanya, Dinas Perhubungan mengkampanyekan budaya penerbangan yang #SelamatAmanNyaman#Selamanya.

Bagi sahabat yang baru pertama kali naik pesawat terbang, kamu bisa mengikuti tips aman nyaman di dalam pesawat. Mengapa itu penting? Karena behavior kita di dalam pesawat juga andil dalam kenyamanan dan keselamatan penerbangan. Saya pernah membaca berita dari grup #SobatAviasi milik Dirjen Perhubungan Udara atau DJPU, bahwa salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan calon penumpang adalah terlambat check in. Jumlahnya cukup besar. Tak sedikit calon penumpang yang akhirnya ketinggalan pesawat. Saran saya, sebaiknya menjadi anggota komunitas #SobatAviasi atau mengikuti media sosialnya di Facebook dan Instagram. Ada juga lomba #vlogcompetitionDJPU bertema di "Keselamatan, Keamanan, dan Kenyamanan dalam Penerbangan." Ikut yuk....


Kembali ke aneka tips agar bisa aman dan nyaman dalam pesawat, berikut tips dari saya:
1. Pakai baju yang nyaman. Cirinya:
a. longgar
b. celana dan lengan panjang. Boleh juga celana panjang dan jaket.
c. bahan pakaian dari katun atau wol
d. sepatu nyaman tanpa hak. Paling bagus memakai snicker bertali.
e. bawa koper/ransel dengan warna mencolok agar mudah ditemukan.

Baju nyaman tak hanya membuat kita percaya diri, tetapi juga membuat perjalanan lebih nyaman.
2. Pesan tempat duduk di bagian ekor pesawat
3. Jika ingin melihat pemandangan, pesan bagian jendela

Dua tips di atas adalah tips yang paling sering saya dengar. Secara logika memang bisa dipertanggungjawabkan, meski jangan sampai menjadikan alasan batal beli tiket gara-gara keduanya tidak available. Hehehe.... Yakin saja bahwa 2 tips ini adalah bonus. Semua tempat duduk aman dan nyaman.
4. Titipkan bagasi yang berat saat check in, bawa keperluan darurat di tas yang lebih kecil.
5. Jangan berlama-lama menghalangi lorong saat menata tas di loker atas.
6. Bijaklah saat mengatur posisi sandaran duduk, agar tidak mengganggu penumpang lain.


Mengenai lorong bangku dan sandaran bangku. Hmm... kelihatannya sangat sepele, tetapi percayalah, ini sama pentingnya karena image-mu akan turun jika ada yang terganggu dan kamu tak segera menyadarinya. Orang Jawa menyebutnya, tepo sliro.

7. Bacalah kartu keselamaan yang ada di depan
8. Cari pintu darurat terdekat dan hitung berapa jumlah selisih tempat duduk atau jaraknya.
9. Dengarkan baik-baik penjelasan dan instruksi keselamatan dari pramugari
10. Selalu kenakan sabuk pengaman sepanjang waktu
11. Minimalisir kegiatan jalan-jalan di lorong kecuali hendak ke kamar kecil.

Penting sekali untuk memperhatikan 5 detail di atas. Screening cepat untuk mengenal keadaan dalam pesawat. Kebiasaan ini sangat bermanfaat dan hendaknya menjadi kebiasaan. Tak hanya saat naik pesawat terbang, tetapi setiap menaiki transportasi umum, baik darat, laut, maupun udada.

Mengapa kita perlu memahami tentang apa yang sebaiknya kita lakukan di dalam pesawat?
Selain keselamatan seluruh penumpang menjadi fokus bersama, juga demi kenyamanan kita sendiri. Sampai di rumah dengan selamat dan bahagia adalah dambaan semua orang. Alasan paling sederhana dari tips saya, selain keamanan dan kenyamanan diri sendiri, adalah manner atau kesopanan kita dalam bersosialisasi. Kita tentu tak mau dipandang sebagai penumpang urakan, ndeso, atau malah membuat jengkel hanya karena ketidaktahuan. Percayalah, naik pesawat membuat level ganteng dan cantikmu bertambah secara significant.

Mudik naik pesawat, yukkk…

Suatu sore, di kompleks Fort Japara XVI di Gunung Loji Jepara . Pulang kerja dan bingung mau ke mana? Saat ada fenomena Om Telolet Om, ratu...

Suatu sore, di kompleks Fort Japara XVI di Gunung Loji Jepara. Pulang kerja dan bingung mau ke mana? Saat ada fenomena Om Telolet Om, ratusan warga ke area Ngabul untuk mengejar suara bis malam. Ketika sudah reda, Patung 3 Perempuan Ngabul menjadi tempat ngehits menghabiskan sore sambil mendengar suara klakson bis malam tanpa susah-susah membawa tulisan. Sudah pasti mendengar klakson telolet!


Eits... tapi kan itu di area Ngabul... Jika di area Jepara kota? Alun-alun menjadi sasaran. Percaya atau tidak, pedagang kaki lima kembali menjamur tanpa ada yang menertibkan. Mungkin karena semua fokus ke Pilkada Jepara tanggal 15 Februari 2017 nanti. Siapa yang berani menguri-uri pedagang kecil itu? Pastinya takut dianggap tidak pro rakyat.

Psst... di dekat alun-alun ada bangunan baru. Bangunan ini membuat warga Jepara bisa menyaksikan view lanskap Jepara dari atas. Memang belum jadi, sih...  tetapi, melihat tidak adanya material di sekitar bangunan, kemungkinan besar proyek terhenti di tengah jalan. Meski belum jadi, sudah banyak warga yang datang tuk mengabadikan keindahan kota Jepara dari atas. Seperti inilah pemandangan di kompleks Fort Japara XVI tanggal 19 Januari 2017 kemarin. Ternyata kompleks ini tetap ramai di sore hari. Ada yang sekadar duduk, bercengkrama, melihat lanskap Jepara, dan ada beberapa rombongan yang berziarah kubur.

Di mana lokasi gunung Loji Jepara?

Mungkin tak banyak yang tahu nama ini. Loji, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti gedung besar, kantor atau benteng kompeni pada masa penjajahan Belanda. Nah, dekat alun-alun Jepara, ada sebuah bukit kecil dengan ketinggian 85 dpl yang oleh penduduk disebut gunung Loji. Di sini memang pernah dijadikan benteng pertahanan VOC atau kompeni pada abad XVI. Sebagai lokasi sejarah, area ini dijadikan tempat konservasi. Sebuah gerbang dibangun kembali dalam bentuk yang sama, sesuai sket. Juga bangunan-bangunan bergaya belanda lain di 3 arah mata angin, tempat para serdadu VOC melakukan pengawasan terhadap area jajahannya.


Di sekitar benteng, terdapat taman makam Giri Dharma, kompleks pemakaman Islam, Kristen, dan China. Juga terdapat taman aneka buah. Di bawah benteng, terdapat sebuah gua yang oleh warga disebut Gua Jepang.